BULETINCILACAP – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilacap mengambil langkah tegas dalam upaya pencegahan penyebaran paham radikalisme di lingkungan pondok pesantren menjelang tahun ajaran baru. Sekretaris PCNU Cilacap, Khasam Bisri, menyatakan bahwa pihaknya kini tengah memperkuat sistem pendidikan Islam moderat sekaligus melakukan pemetaan menyeluruh terhadap lembaga-lembaga pesantren di wilayah Kabupaten Cilacap. Langkah ini bertujuan agar orang tua calon santri lebih selektif dan tidak salah langkah dalam memilih tempat pendidikan bagi putra-putri mereka.
Khasam Bisri menegaskan bahwa komitmen Nahdlatul Ulama dalam menjaga keutuhan NKRI dan kebinekaan sudah mendarah daging sejak organisasi ini didirikan. Melalui jaringan lembaga pendidikan formal maupun nonformal, NU secara konsisten menanamkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang mengedepankan sikap tawasut (moderat), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleran). Hal ini menjadi benteng utama dalam menangkis pengaruh ajaran yang mengarah pada kebencian serta kekerasan terhadap kelompok lain.
Strategi Pemetaan Lembaga dan Penguatan Islam Moderat
Menurut Khasam, keterbukaan informasi mengenai latar belakang sebuah pesantren sangat krusial bagi masyarakat. Mengingat tidak semua pesantren di Cilacap bernaung di bawah payung organisasi yang sama, PCNU merasa perlu memberikan panduan yang jelas. Pemetaan ini akan membedakan mana lembaga yang secara struktural dan ideologis sejalan dengan napas moderasi NU dan mana yang berada di luar naungan tersebut.
“Sejak awal berdirinya, Nahdlatul Ulama memiliki komitmen merawat Bhinneka Tunggal Ika serta mengajarkan Islam rahmatan lil ‘alamin yang menghargai perbedaan, tetapi secara jelas menolak paham radikalisme dan kekerasan. Kami melakukan pemetaan ini agar masyarakat memiliki informasi yang akurat sebelum menyekolahkan anaknya,” ujar Khasam Bisri.
Sinergi LP Ma’arif dan RMI dalam Menjaga Marwah Pesantren
Dalam strukturnya, PCNU Cilacap mengandalkan dua lembaga utama untuk memastikan kualitas pendidikan tetap terjaga. Lembaga Pendidikan Ma’arif NU bertanggung jawab mengelola sekolah formal, sementara Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) menjadi wadah koordinasi bagi pondok-pondok pesantren. Melalui sinergi kedua lembaga ini, sosialisasi mengenai pentingnya memilih institusi pendidikan yang mendukung kebijakan pemerintah dan kurikulum nasional terus digalakkan secara masif ke tingkat akar rumput.
Mencetak Generasi Religius yang Cinta Tanah Air
Sebagai penutup, Khasam Bisri berharap agar seluruh warga NU dan masyarakat umum dapat lebih jeli dalam menitipkan pendidikan karakter anak. Ia menekankan bahwa pesantren di bawah naungan NU selalu mendukung kebijakan pemerintah karena memiliki visi yang selaras, yakni mencetak generasi yang tidak hanya religius secara spiritual, tetapi juga memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Dengan pemahaman Islam yang moderat, diharapkan santri masa depan mampu menjadi perekat keberagaman di tengah masyarakat Indonesia.

Leave a Reply